Pentingnya Pendampingan pada Penyandang Disabilitas Tuna Grahita
Pentingnya Pendampingan pada Penyandang Disabilitas Tuna Grahita
Dinsos PPKBKebumen mengadakan Pelatihan Pendampingan Anak Disabilitas Tuna Grahita
Dalam rangka memberikan pengetahuan dan ketrampilan, sebanyak 10 orang volunteer mengikuti kegiatan pelatihan pendamping disabilitas tuna grahita. Pelatihan dilaksanakan di Dnas Sosial dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kebumen, pada hari Selasa (12/3).
Hadir dan sekaligus membuka acara pelatihan tersebut, Kepala dinas Sosial Budi Satrio, disertai beberapa beberapa pejabat struktural.
Menteri Sosial Agung Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Kemnesos bertugas melakukan pengalawan ketat dan pendampingan terhadap para sukarelawan yang akan berhubungan langsung dengan para atlet dan penonton penyandang disabilitas.
"Volunteer pendamping penyandang disabilitas merupakan salah satu pilar penting dalam penyelenggaraan Indonesia Asian PAra Games 2018. Karena itu, Kemensos akan mengawal ketat dan serius terhadap proses pendampingan yang dilakukan volunteer kepada atlet dan penonton penyandang disabilitas," ujar Agung, Kamis (13/9).
Menteri mengatakan, pendampingan kepada penyandnag
disablitas memerlukan keahlian, keterampilan, pengetahuan tentang keterbatasan,
dan kebutuhan khusus para penyandang disabilitas.
Oleh karena itu, volunteer harus memahami perspektif disablitas termasuk identifikasi hambatan, etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas, serta pemahaman dasar tentang aksesibilitas bagi penyandang disabilitas
Dalam rangka memberikan pengetahuan tentang pendampingan disabilitas, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) menggelar pelatihan pendampingan anak disabilitas korban kekerasan Tahun 2018, yang dimulai sejak Senin (17/9) hingga Rabu (19/9) kemarin.
Bertempat di Ballroom Hotel Tiara Surya, kegiatan tersebut diikuti 40 peserta. Mulai perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Perwakilan Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bontang, penyandang disabilitas dan lembaga pencegahan penanganan perempuan dan anak yang mengalami trauma dan tindak kekerasan (teripang Laut) di beberapa kelurahan.
Dengan menghadirkan pemateri Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan Psikolog Klinis P2TP2A Provinsi DKI Jakarta.
Kepala Dissos-P3M Abdu Safa Muha menuturkan, dengan pelatihan ini dirinya mengharapkan ilmu yang didapatkan para peserta agar betul-betul diterapkan dalam melakukan pendampingan. Minimal di lingkungan kerjanya bahkan di tempat tinggalnya. Sehingga kata dia, selain berfungsi sebagai fasilitator, para pendamping yang mengikuti pelatihan ini, dapat mengedukasi dan mempromosikan di lingkungan masyarakat terkait pedampingan disabilitas.
“Pelatihan ini akan dapat berkelanjutan. Sehingga para peserta pelatihan ini menjadi relawan atau pelopor sebelum diberikan ke P2TP2A. Kepada masyarakat yang memiliki keluarga penyandang disabilitas, tidak perlu lagi ragu terhadap ancaman-ancaman yang mungkin selama ini terjadi. Karena negara pun akan hadir, yang langkah awalnya ialah para pendamping–pendamping yang mengikuti pelatihan ini,” ungkap Safa.
Dia juga menyampaikan, dengan didapatkan ilmu ini dapat berkembang dan perkembangannya dapat menyesuaikan kondisi kasus yang terjadi di lapangan.
”Harapan kami dengan adanya ilmu dasar ini, dapat memberikan akses pendampingan yang baik untuk korban kekerasan disabilitas,” terang Safa.
Sementara itu, salah satu peserta dari perwakilan Satpol PP, Arman mengatakan, pelatihan ini sangat perlu dilakukan, karena sangat bermanfaat bagi dirinya yang terlibat langsung di lapangan dalam menangani disabilitas. Dia pun berharap pelatihan ini dapat berkelanjutan untuk ke depannya.
"Saya sangat antusias dilaksanakan pelatihan ini. Karena pelatihan ini, kami bisa tau cara menangani disabilitas dan mengetahui hukum–hukumnya dalam melakukan pendampingan,” ungkap Arman. (*/one)
